Implications of Negative GeneXpert MTB Test Results in Suspected Tuberculosis Patients
Tuberkulosis(TBC) masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Salah satu strategi untuk mempercepat eliminasi TBC adalah salah satunya dengan percepatan penemuan kasus TBC. Penegakan diagnosis TB di Indonesia saat ini menggunakan metode tes cepat molekuler (TCM) GeneXpert Mycobacterium tuberculosis/ rifampicin (MTB/RIF) . Alat ini mengidentifikasi infeksi Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan resistensi rifampisin (RIF).Peralatan ini telah tersedia di 878 fasilitas kesehatan yang tersebar di 478 kabupaten/ kota di Indonesia. Nilai prediksi negatif dan akurasi GeneXpert lebih unggul daripada pewarnaan Basil Tahan Asam (BTA). Sehingga , tes GeneXpert hasil negatif dapat menyingkirkan TB, namun perlu dipertimbangkan apakah pasien mengalami infeksi NTM (non-tuberculous mycobacteria).
Prevalensi penyakit (NTM) diketahui secara global meningkat, namun penegakan diagnosis NTM belum sering dilakukan , khususnya di Indonesia. Penyakit NTM dapat misdiagnosis sebagai tuberkulosis resisten obat (MDR-TB), sedangkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, prevalensi tuberkulosis (TB) dan TB resistan multi drug(MDR-TB) masih tinggi.Masalah lainnya adalah pasien dengan diagnosis klinis TB tidak ditemukan hasil bakteriologis yang membuktikan TB, sehingga perlu dipikirkan penyebab NTMPD (Non tuberculous Mycobacteria Pulmonary Disease) pada pasien dengan penyakit paru kronis. NTM, juga disebut mycobacteria other than tuberculosis (MOTT), merupakan mycobacteria yang ditemukan di lingkungan, namun dapat menjadi penyebab infeksi. Tentunya di area endemis TB, koinfeksi NTM-TB membutuhkan perhatian, utamanya dalam hal diagnosis dan terapi TB.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi NTMPD pada pasien terduga TB kronis dengan hasil negatif GeneXpert di suatu rumah sakit rujukan di Surabaya, Indonesia. Studi ini menyoroti tentang implikasi hasil negatif GeneXpert MTB/RIF pada pasien terduga TB. Selama Januari hingga Agustus 2022, dari 100 sampel saluran nafas dari pasien terduga TB paru kronis dengan hasil uji GeneXpert MTB/RIF negatif , dilakukan kultur Mycobacterium pada medium Lowenstein Jensen (LJ), gejala klinis dan kelainan paru pada pasien terduga TB dianalisis
Hasil penelitian menunjukkan satu persen pasien terdeteksi NTM, dan tujuh persen terdeteksi kultur MTB di antara hasil uji GeneXpert MTB/RIF negatif . Implikasi hasil Genexpert MTB/RIF negative pada 34% pasien menunjukkan pemberian obat anti TB walaupun hasil kultur MTB tidak terdeteksi. Studi ini menunjukkan pentingnya uji diagnostic lebih lanjut untuk menentukan penyebab kelainan paru-paru utamanya pada hasil negative Genexpert MTB/RIF sehingga pengobatan dan penanganan menjadi tepat.
Penulis: Deby Kusumaningrum
Baca juga: Gambaran Mutasi Gen rpoB Pada isolate Mycobacterium Tuberculosis Resisten Rifampicin
Penutup dan Langkah Selanjutnya
Kesimpulannya,GeneXpert MTB/RIF merupakan alat diagnostik penting dalam percepatan penemuan kasus TBC di Indonesia. Dengan akurasi dan nilai prediksi negatif yang tinggi, alat ini mampu mendukung tenaga kesehatan dalam menegakkan diagnosis dan mengarahkan pasien pada pengobatan yang tepat.
Meski telah tersedia di banyak fasilitas kesehatan, percepatan akses GeneXpert ke seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah terpencil, dibutuhkan untuk memastikan diagnosis dini dan pengobatan tepat waktu bagi seluruh populasi. Peningkatan kapasitas pelatihan tenaga kesehatan dalam penggunaan alat ini dan upaya memantapkan rantai pasokan alat serta reagents juga penting untuk mendukung keberhasilan programme eliminasi TBC di Indonesia.
Melalui sinergi antara teknologi, pelatihan, dan kebijakan yang tepat, kita dapat meminimalkan beban TBC dan mewujudkan visi Indonesia bebas TBC.
Penting untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas diagnostik terhadap NTM di Indonesia.Meskipun GeneXpert MTB/RIF merupakan alat yang efektif dalam mendeteksi TB dan resistensi rifampisin, hasil negatifnya tidak selalu berarti pasien bebas dari infeksi.
Penegakan diagnosis NTM perlu ditingkatkan melalui pengembangan metode diagnostik yang lebih spesifik dan sensitif. Hal ini penting untuk menghindari misdiagnosis MDR-TB dan memastikan pasien dengan penyakit paru kronis mendapatkan pengobatan yang tepat.
Pendekatan kolaboratif antara tenaga kesehatan, peneliti, dan pemerintah diperlukan untuk mengatasi tantangan ini.
Dengan upaya bersama,Indonesia dapat mempercepat eliminasi TB sekaligus mengendalikan penyebaran penyakit NTM.
